Kajian ⏱️ 11 Menit Baca

Kajian Subuh Masjid Al-Hakim BSD: Hakikat Kezaliman dan Bahayanya Menutup Pintu Hidayah

👤 Penulis: Pak Soleh
Kajian Subuh Masjid Al-Hakim BSD: Hakikat Kezaliman dan Bahayanya Menutup Pintu Hidayah

TANGERANG SELATAN — Jemaah Masjid Al-Hakim BSD kembali memadati ruang utama masjid untuk mengikuti Kajian Ahad Subuh pada 30 Agustus 2026. Menghadirkan narasumber Ust. Rahmat Hidayat Lubis, M.A., Ph.D., kajian tematik ini mengangkat topik yang sangat fundamental bagi keselamatan iman: “Hakikat Kezaliman dan Bahayanya Menutup Pintu Hidayah”.

Dalam mukadimahnya, Ustaz mengingatkan jemaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat berada di tempat yang paling dicintai Allah SWT, yaitu masjid-masjid-Nya sebagai baitun lil-muttaqiin (rumah bagi setiap insan yang bertakwa, sebagaimana disabdakan dalam riwayat HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no. 5567). Majelis ilmu di rumah Allah bukan sekadar menambah wawasan kognitif, melainkan benteng utama agar setiap muslim mampu mengikis kezaliman dari dalam dirinya.

Kajian mendalam ini membedah hakikat definisi zalim, tiga dimensi kezaliman, bahaya meremehkan dosa kecil, serta adab bermasyarakat demi menjaga kebersihan hati dari kebencian antar-sesama mukmin.


1. Hakikat Definisi Zalim & Kerendahan Hati Mengakui Dosa

Secara bahasa dan terminologi syariat, para ulama mendefinisikan zalim (azh-zhulm) sebagai:

وَضْعُ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ الْمُخْتَصِّ بِهِ

“Wadh’usy-syai’i fii ghairi mawdhi’ihil-mukhtashshi bih.”

Artinya: “Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya yang semestinya (atau tidak sesuai dengan takaran dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT).”

Banyak orang mengira kezaliman hanya terjadi ketika merampas hak orang lain atau melakukan kejahatan fisik. Padahal, setiap tindakan, perkataan, dan keyakinan yang melanggar ketetapan syariat hakikatnya termasuk kezaliman.

Bahkan, para nabi dan manusia terbaik senantiasa menunjukkan ketawaduan mutlak dengan mengakui kezaliman diri di hadapan Allah SWT:

  1. Nabi Adam ‘alaihissalam: Tatkala melakukan kekhilafan mendekati pohon yang dilarang, beliau dan Hawa segera memanjatkan doa taubat:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal-khaasiriin.”

Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 23)

  1. Nabi Yunus ‘alaihissalam (Dzun Nun): Saat berada dalam kegelapan perut ikan paus, beliau bermunajat mengakui kelemahan dirinya:
لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.”

Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

  1. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu: Sosok sahabat termulia yang dijamin masuk surga dari pintu mana saja, meminta diajarkan doa oleh Rasulullah ﷺ untuk dibaca dalam sholatnya. Beliau diajarkan pengakuan kezaliman diri:
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Allaahumma innii zhalamtu nafsii zhulman katsiiraa, wa laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta, faghfir lii maghfiratam min ‘indika, warhamnii, innaka antal-ghafuurur-rahiim.”

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Bukhari no. 834 & Muslim no. 2705)


2. Tiga Dimensi Kezaliman dalam Islam

Ust. Rahmat Hidayat Lubis menguraikan bahwa para ulama membagi kezaliman ke dalam tiga kategori utama:

A. Kezaliman Pertama: Zalim kepada Allah SWT (Azh-Zhulmu fii Haqqillaah)

Kezaliman ini terjadi tatkala seorang hamba tidak menempatkan hak Allah sebagaimana mestinya (wa maa qadarullaaha haqqa qadrih). Allah SWT adalah Al-Ahad (Maha Esa) dan Ash-Shamad (Maha Sempurna tempat bergantung seluruh makhluk dan muara segala kesempurnaan).

Barang siapa yang menisbatkan kekuasaan, kesembuhan, atau rezeki kepada selain Allah tanpa mengaitkannya kepada kehendak Allah SWT, ia telah berlaku zalim. Bentuk kezaliman tertinggi adalah mempersekutukan Allah (syirik), sebagaimana wasiat Luqman kepada putranya:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Innas-syirka lazhulmun ‘azhiim.”

Artinya: “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Ustaz merinci bentuk-bentuk kezaliman terhadap hak Allah:

  • Riya’ (Syirik Kecil): Beribadah, sholat, membaca Al-Qur’an, atau bersedekah dengan niat mencari sanjungan manusia. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa tiga golongan yang pertama kali dihisab dan dicampakkan ke neraka adalah qari’, pejuang, dan dermawan yang amalnya tercemar penyakit riya’ (HR. Muslim no. 1905). Keikhlasan adalah karunia yang harus selalu dimohonkan kepada Allah (al-mukhlasin, QS. Shad: 83).

  • Khurafat dan Perdukunan: Mendatangi paranormal/dukun, ramalan masa depan, astrologi/zodiak, atau meyakini mitos hari/bulan sial (seperti takhayul bulan Safar atau mitos hari Selasa sial). Syariat mengajarkan bahwa seluruh hari diciptakan Allah dengan kebaikan. Ketika menghadapi keraguan urusan dunia dan masa depan, seorang mukmin diperintahkan menempuh sholat Istikharah dan memohon petunjuk langsung kepada Allah:

    “Allaahummahdinii fiiman hadayt…” (Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk, HR. Abu Dawud no. 1425 & At-Tirmidzi no. 464).

  • Sombong Menafikan Karunia Allah: Meniru tabiat Qarun yang menyombongkan keilmuan dan usahanya sendiri tanpa melibatkan Allah: “Qaala innamaa uutiituhuu ‘alaa ‘ilmin ‘indii” (Qarun berkata: Sesungguhnya aku diberi harta itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku, QS. Al-Qashas: 78). Padahal Allah-lah Sang Maha Pemberi Rezeki (Innallaaha huwar-razzaaqu dzul-quwwatil-matiin, QS. Az-Zariyat: 58).

B. Kezaliman Kedua: Zalim kepada Diri Sendiri (Zhulmun-Nafs)

Kezaliman ini terjadi ketika seseorang melanggar larangan syariat atau menelantarkan hak-hak asasi yang telah Allah tetapkan pada dirinya:

  • Hak Rohani: Jiwa manusia membutuhkan nutrisi tauhid, sholat lima waktu, qiyamullail, tilawah Al-Qur’an, dan zikir. Mengabaikan sholat dan maksiat berarti menyengsarakan ruh sendiri di dunia dan akhirat (wa maa zhalamuunaa wa laakin kaanuu anfusahum yazhlimuun, QS. Al-Baqarah: 57).
  • Hak Jasad/Fisik: Tubuh memiliki hak untuk makan halal-thayyib, beristirahat, dan tidur secukupnya. Memforsir tubuh hingga binasa atau menolak hak biologis secara ekstrem merupakan bentuk kezaliman terhadap fisik (sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam HR. Bukhari no. 1975: “Inna li-jasadika ‘alaika haqqaa” — Sesungguhnya jasadmu memiliki hak atasmu).

C. Kezaliman Ketiga: Zalim kepada Sesama Makhluk (Azh-Zhulmu lil-‘Ibaad)

Kezaliman horizontal mencakup pelanggaran hak terhadap sesama manusia dan makhluk hidup:

  • Pelanggaran Hak Harta & Kehormatan: Mengambil barang milik orang lain, memotong hak waris keluarga, menyelewengkan dana amanah organisasi/masjid, hingga korupsi hak publik.
  • Bahaya Menjadi Orang Bangkrut (Al-Muflis): Rasulullah ﷺ memperingatkan bahaya orang yang datang di hari kiamat membawa pahala sholat, puasa, dan zakat yang melimpah, namun ia pernah mencela, memakan harta, memukul, atau menumpahkan darah sesama. Pahala kebaikannya akan dibagikan kepada para korban hingga habis; bila pahalanya habis, dosa para korban ditimpakan kepadanya lalu ia dilempar ke neraka (HR. Muslim no. 2581).

3. Bahaya Meremehkan Dosa Kecil & Penyumbat Pintu Hidayah

Dalam sesi tausiyah, Ust. Rahmat Hidayat Lubis memberikan analogi tajam mengenai bahaya meremehkan dosa-dosa kecil (muhaqqaraat adz-dzunuub):

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ

“Iyyaakum wa muhaqqaraatidz-dzunuub, fa innamaa matsalu muhaqqaraatidz-dzunuubi kaqawmin nazaluu fii bathni waadin, fajaa-a dzaa bi’uudin, wa jaa-a dzaa bi’uudin, hattaa andhajuu khubzatahum, wa inna muhaqqaraatidz-dzunuubi mataa yu’khadz bihaa shaahibuhaa tuhlik-h.”

Artinya: “Hati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa kecil yang dianggap remeh. Sesungguhnya perumpamaan dosa kecil adalah seperti sekelompok orang yang singgah di dasar sebuah lembah. Lalu seseorang membawa sebatang ranting kayu dan yang lain membawa sebatang ranting, hingga terkumpul tumpukan kayu yang mampu mematangkan adonan roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu, bila terus menumpuk pada pelakunya, niscaya akan membinasakannya.” (HR. Ahmad no. 22808 & Ibnu Majah no. 4243)

Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus tanpa istighfar akan menggelapkan hati dan menjadi penghalang terbesar turunnya hidayah Allah SWT. Allah menegaskan dalam firman-Nya:

وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Wallaahu laa yahdil-qawmazh-zhaalimiin.”

Artinya: “Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)


4. Tanya Jawab: Adab Pengeras Suara & Menjaga Hati dari Kebencian (Ghill)

Pada sesi tanya jawab interaktif, salah seorang jemaah menyampaikan pertanyaan mengenai etika penggunaan pengeras suara masjid/sekolah di lingkungan pemukiman manakala dirasa mengganggu kekhusyukan ibadah di rumah.

Ustaz menjelaskan dengan bijaksana melalui penelusuran riwayat sunnah Rasulullah ﷺ:

A. Sunnah Melembutkan Suara dalam Masjid

Ketika Rasulullah ﷺ beriktikaf di masjid dan mendengar para sahabat membaca Al-Qur’an dengan suara keras yang saling bersahutan, beliau menyingkap tabir seraya bersabda:

أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ

“Alaa inna kullakum munaajin rabbahu, falaa yu’dziyanna ba’dhukum ba’dhaa, wa laa yarfa’ ba’dhukum ‘alaa ba’dhin fil-qiraa’ah.”

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya setiap kalian sedang bermunajat kepada Tuhannya. Maka janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan (Al-Qur’an) atas sebagian yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 1332 & Ahmad no. 11896)

Membaca Al-Qur’an atau mengumandangkan zikir adalah kebaikan, namun bila tidak mempertimbangkan kenyamanan jemaah lain yang sedang sholat atau beristirahat, hal tersebut perlu diselaraskan dengan adab.

B. Kaidah Saddiduu wa Qaaribuu & Mengedepankan Ukhuwah

Ustaz menekankan prinsip moderasi dan proporsionalitas (saddiduu wa qaaribuu, HR. Bukhari no. 6463) melalui musyawarah yang santun antara pengurus dan warga sekitar:

  • Pengurus dan jemaah saling berprasangka baik (husnuzhan) tanpa menuduh adanya niat riya’.
  • Menyampaikan masukan secara elegan, bijak, dan berbasis kearifan lokal lingkungan sekitar.
  • Mengutip pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, persaudaraan iman (ukhuwah Islamiyah) harus selalu ditempatkan di atas perbedaan furu’iyah dan ijtihad praktis.

C. Membersihkan Hati dari Rasa Dendam dan Benci (Ghill)

Poin terpenting dalam perselisihan antar-sesama muslim adalah menjaga hati agar tidak terjangkit penyakit ghill (kebencian, kedengkian, dan dendam) yang dapat melenyapkan pahala amal saleh. Orang-orang beriman senantiasa berdoa:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Rabbanagh-fir lanaa wa li-ikhwaaninal-ladziina sabaquunaa bil-iimaani wa laa taj’al fii quluubinaa ghillal lilladziina aamanuu rabbanaa innaka ra’uufur-rahiim.”

Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian/kebencian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Kajian diakhiri dengan doa bersama memohon agar Allah SWT membersihkan hati segenap kaum muslimin dari noda kezaliman, mempersatukan hati dalam naungan iman (wa allafa baina quluubihim, QS. Al-Anfal: 63), serta melimpahkan hidayah dan keistiqamahan hingga akhir hayat.


Kesimpulan & Refleksi

  1. Zalim adalah Menempatkan Sesuatu Bukan pada Tempatnya: Baik dalam skala besar maupun kecil, setiap pelanggaran syariat merupakan bentuk kezaliman yang wajib disegerakan taubatnya.
  2. Waspadai Tiga Pintu Kezaliman: Jauhi syirik dan riya’ kepada Allah SWT, penuhi hak ruh dan jasad secara seimbang pada diri sendiri, serta jaga hak dan kehormatan sesama makhluk agar terhindar dari predikat bangkrut di akhirat.
  3. Penyumbat Hidayah: Kezaliman yang dibiarkan menumpuk bagaikan ranting kayu bakar yang siap mengobarkan api pembinasa dan menutup pintu hidayah Ilahi.
  4. Lapangkan Dada: Bersihkan hati dari kebencian dan dendam (ghill) kepada sesama saudara seiman, utamakan ukhuwah di atas segala perbedaan.

🎬 Tonton Video Selengkapnya:
Rekaman lengkap kajian dapat disaksikan melalui channel YouTube resmi Masjid Al-Hakim BSD:

Bagikan Kabar Ini:
WhatsApp Facebook

Kabar Lainnya

Kajian

Kajian Subuh Masjid Al-Hakim BSD: 4 Pilar Kebangkitan & Kemajuan Peradaban Umat — Dari Generasi Muda hingga Ketahanan Keluarga

🗓️ 29 Agu Baca →
Khotbah

Khotbah Jumat Masjid Al-Hakim BSD: Hakikat Cinta Sejati kepada Rasulullah ﷺ — Dari Keteladanan Sahabat hingga Bukti Ketaatan

🗓️ 28 Agu Baca →