Mengenal Allah As-Syafi’i: Hakikat Kesembuhan Lahir dan Batin
TANGERANG SELATAN — Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia tidak pernah lepas dari ujian berupa sakit dan penyakit. Ketika tubuh terasa lemah atau hati diliputi kegelisahan dan kecemasan, ke manakah seorang hamba seharusnya bersandar?
Melalui pembahasan kajian keislaman, menggali makna dan keagungan nama Allah As-Syafi’i (Yang Maha Menyembuhkan) memberikan sudut pandang mendalam tentang bagaimana seorang muslim seharusnya menyikapi rasa sakit, ikhtiar medis, dan kepasrahan (tawakal) kepada Sang Pencipta.
1. Landasan Nama As-Syafi’i dalam Riwayat Hadis
Kata As-Syafi’i sebagai salah satu nama dan sifat Allah secara eksplisit didapatkan dalam riwayat hadis sahih Rasulullah SAW (HR. Bukhari no. 5675 & Muslim no. 2191). Ketika menjenguk sahabat atau keluarga yang sedang sakit, Rasulullah SAW merukyah dan memanjatkan doa:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا“Allahumma rabban-naasi adzhibil-ba’sa, isyfi antas-syaafii, laa syifaa-a illaa syifaa-uka, syifaa-an laa yughaadiru saqaman.”
Artinya: “Ya Allah, Rabb seluruh manusia, hilangkanlah kesusahan/penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah As-Syafi (Yang Maha Menyembuhkan). Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikit pun.” (HR. Bukhari & Muslim)
Doa ini mengajarkan setiap muslim untuk senantiasa menyertakan nama Allah As-Syafi’i saat memohon kesembuhan—baik untuk kesehatan diri sendiri maupun ketika mendoakan kerabat dan saudara yang sedang diuji dengan penyakit.
2. Etika Kesadaran Diri: Mengapa Sakit Datang?
Di dalam Al-Qur’an Surah Ash-Syu’ara ayat 80, Nabi Ibrahim a.s. menegaskan ikhtiar dan ketauhidannya:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ“Wa idzaa maridhtu fahuwa yasyfiin.”
Artinya: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Ash-Syu’ara: 80)
Para ulama menyoroti tata bahasa (adab) luar biasa dalam ayat ini. Nabi Ibrahim a.s. tidak mengatakan “Apabila Dia membikinku sakit”, melainkan “Apabila aku sakit”.
Pelajaran berharga dari tata krama ini mengajarkan kesadaran diri (self-awareness): mayoritas penyakit fisik timbul akibat kelalaian dan kelemahan manusia sendiri dalam menjaga pola hidup, makanan, serta kesehatan tubuh. Namun, tatkala kesembuhan itu hadir, secara mutlak ia bersumber dari kasih sayang Allah SWT.
3. Memahami Kedudukan Obat dan Dokter
Sering kali saat kepala terasa pusing atau demam menyerang, hal pertama yang terbersit di pikiran kita adalah nama obat warung, resep apotek, atau dokter spesialis. Tanpa disadari, peran Allah sebagai penyembuh sejati sering kali baru diingat manakala ikhtiar medis menemui jalan buntu.
Dalam pandangan Islam, hubungan antara pengobatan dan keimanan diatur secara seimbang:
- Obat dan Dokter adalah Sebab/Perantara: Obat dan tindakan medis tidak memiliki daya mandiri untuk menyembuhkan, melainkan menyembuhkan atas izin dan kehendak Allah (bi’idznillah).
- Berobat adalah Ibadah: Menjalani pengobatan medis merupakan bentuk ikhtiar fisik yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW (Tadawau ‘ibadallah — “Berobatlah wahai hamba-hamba Allah”), sementara hati tetap bertawakal penuh hanya kepada Allah As-Syafi’i.
4. Penyakit Fisik sebagai Obat Jiwa
Manusia diciptakan dengan batas dan kelemahan fisik agar tidak jatuh ke dalam kesombongan dan keangkuhan. Rasa sakit sering kali menjadi sarana tarbiyah (pendidikan dan pemeliharaan rohani) dari Allah SWT.
Ketika fisik diuji dengan rasa sakit, kesombongan meluruh, rasa cinta berlebihan pada dunia berkurang, dan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta semakin menguat. Dalam banyak kondisi, penyakit fisik justru hadir sebagai ‘obat’ penawar bagi penyakit hati yang jauh lebih berbahaya, seperti ujub, riya, dan takabur.
5. Al-Qur’an sebagai Penawar Utama (Syifa’)
Allah SWT tidak hanya menyediakan obat untuk penyakit jasad, tetapi juga penawar utama bagi jiwa manusia. Al-Qur’an adalah syifa’ (penawar) bagi kesempitan dada, kecemasan, rasa iri, dengki, dan keraguan hati.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ“Wa nunazzilu minal-qur’aani maa huwa syifaa’uw wa rahmatul lil-mu’miniin…”
Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar (syifa’) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Isra’: 82)
Memperbanyak membaca, mendengarkan, serta menadaburi ayat-ayat Al-Qur’an merupakan terapi rohani terbaik untuk mengembalikan kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan sejati dalam hidup.
Kesimpulan
Meyakini Allah sebagai As-Syafi’i melahirkan optimisme yang kokoh dalam berobat serta ketenangan jiwa dalam berikhtiar. Baik penyakit fisik maupun batin, tidak ada kesembuhan yang sejati melainkan yang bersumber dan dikaruniakan langsung dari-Nya.
🎬 Tonton Video Kajian Selengkapnya:
Simak penjelasannya secara lengkap melalui tayangan video kajian di channel YouTube: