Kajian Subuh Masjid Al-Hakim BSD: 11 Kriteria Orang Beruntung (Al-Muflihun) Menurut Al-Qur’an
TANGERANG SELATAN — Memanfaatkan momentum libur nasional Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, jemaah Masjid Al-Hakim BSD memadati ruang utama masjid untuk mengikuti Kajian Senin Subuh pada 17 Agustus 2026. Menghadirkan narasumber Ust. Rahmat Puteh, Lc., kajian tematik ini mengangkat topik fundamental mengenai “11 Kriteria Orang-Orang yang Beruntung (Al-Muflihun) Menurut Al-Qur’an”.
Dalam pembukaannya, Ust. Rahmat Puteh menekankan bahwa dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, keimanan bersifat dinamis—dapat bertambah dengan ketaatan (yaziidu bith-thaa’ah) dan berkurang akibat kemaksiatan. Setiap amal saleh dan majelis ilmu yang dihadiri menjadi sarana penyempurna iman. Dengan kesempurnaan iman inilah Allah SWT menjanjikan keteguhan (tsabat) baik saat menghadapi sakaratul maut di dunia maupun saat menjawab pertanyaan kubur di alam barzakh kelak:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ“Yutsabbitullaahul-ladziina aamanuu bil-qawlits-tsaabiti fil-hayaatid-dunyaa wa fil-aakhirah…”
Artinya: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (kalimat thayyibah) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat…” (QS. Ibrahim: 27)
Membahas hakikat kemenangan dan keberuntungan sejati, Ust. Rahmat Puteh membedah 11 ayat Al-Qur’an yang secara spesifik menegaskan sifat golongan Al-Muflihun (orang-orang yang beruntung dan pemenang sejati), disertai tinjauan gramatika bahasa Arab (kaidah fi’il):
1. QS. Al-Baqarah: 2–5 — Istiqamah dalam Iman Gaib, Sholat, dan Infak
Ciri pertama ditegaskan pada pembuka Surah Al-Baqarah bagi golongan orang bertakwa (al-muttaqiin):
أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Ulaa’ika ‘alaa hudam mir-rabbihim wa ulaa’ika humul-muflihuun.”
Artinya: “Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 5)
Ustaz menyoroti penggunaan kata kerja bentuk sedang/berkelanjutan (fi’il mudhari’) seperti yu’minuun (senantiasa beriman pada hal gaib), yuqiimuun (konsisten mendirikan shalat), dan yunfiquun (rutin berinfak di jalan Allah). Kemenangan sejati menuntut keistiqamahan amal dari waktu ke waktu hingga akhir hayat.
2. QS. Luqman: 4–5 — Penegasan Golongan Penegak Sholat, Penunai Zakat, dan Keyakinan Akhirat
Sebagai penguat (ta’kiid), Allah SWT mengulang kriteria orang-orang yang beruntung dalam Surah Luqman:
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُم بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Alladziina yuqiimuunash-shalaata wa yu’tuunaz-zakaata wa hum bil-aakhirati hum yuuqinuun. Ulaa’ika ‘alaa hudam mir-rabbihim wa ulaa’ika humul-muflihuun.”
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka yakin akan adanya hari akhirat. Merekalah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Luqman: 4–5)
3. QS. Al-A’raf: 8 — Beratnya Timbangan Kebaikan di Yaumul Mizan
Tolak ukur kemenangan hakiki saat amal perbuatan manusia ditimbang dengan seadil-adilnya di hari hisab:
وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Wal-waznu yawma’idzinil-haqq, faman tsaqulat mawaaziinuhuu fa ulaa’ika humul-muflihuun.”
Artinya: “Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan). Maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 8)
4. QS. Al-Mu’minun: 102 — Penegasan Keselamatan Pemilik Timbangan Kebajikan yang Berat
Kriteria ini kembali ditegaskan Allah SWT pada Surah Al-Mu’minun:
فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Faman tsaqulat mawaaziinuhuu fa ulaa’ika humul-muflihuun.”
Artinya: “Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Mu’minun: 102)
Jemaah diingatkan untuk senantiasa menghisab diri (muhasabah) sebelum dihisab di akhirat (Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu) agar hari-hari diisi dengan memperbanyak timbangan kebaikan.
5. QS. Al-Hasyr: 9 — Bersih Jiwa dan Terbebas dari Penyakit Kekikiran (Syuhhan-Nafs)
Saat mengabadikan keteladanan kaum Anshar yang dermawan dan tulus berbagi, Allah SWT berfirman:
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Wa may yuuqa syuhha nafsihii fa ulaa’ika humul-muflihuun.”
Artinya: “Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Ustaz memaparkan makna kikir (syuhh / iqtar) menurut para ulama, yaitu menahan harta pada perkara-perkara ketaatan kepada Allah (amsaka fii thaa’atillaah), seperti enggan bersedekah atau membantu pembangunan tempat ibadah padahal mampu.
6. QS. At-Taghabun: 16 — Bertakwa Semaksimal Kemampuan dan Senantiasa Berinfak
Penegasan berikutnya disampaikan Allah SWT dalam Surah At-Taghabun:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Fattaqullaaha mastatha’tum wasma’uu wa athii’uu wa anfiquu khoiral li-anfusikum, wa may yuuqa syuhha nafsihii fa ulaa’ika humul-muflihuun.”
Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa diselamatkan dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16)
7. QS. Al-A’raf: 157 — Beriman, Memuliakan, Menolong, dan Mengikuti Risalah Nabi Muhammad SAW
Kunci mutlak keberuntungan bagi manusia adalah ketundukan penuh kepada risalah Rasulullah SAW:
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Fal-ladziina aamanuu bihii wa ‘azzaruuhu wa nasharuuhu wattaba’un-nuural-ladzii unzila ma’ahuu ulaa’ika humul-muflihuun.”
Artinya: “Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad), memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157)
8. QS. An-Nur: 51 — Kepatuhan Total (Sami’na wa Atha’na) terhadap Ketetapan Syariat
Respon tulus seorang mukmin sejati ketika diseru kepada hukum Allah dan Rasul-Nya:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Innamaa kaana qawlal-mu’miniina idzaa du’uu ilallaahi wa rasuulihii liyahkuma bainahum ay yaquuluu sami’naa wa atha’naa, wa ulaa’ika humul-muflihuun.”
Artinya: “Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, ‘Kami mendengar, dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)
9. QS. Ali ‘Imran: 104 — Mengemban Tanggung Jawab Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Keberuntungan yang dihadirkan lewat kepedulian sosial untuk menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran:
وَلْتَكُن مِّنكُم أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Waltakum minkum ummatuy yad’uuna ilal-khoiri wa ya’muruuna bil-ma’ruufi wa yanhawna ‘anil-munkar, wa ulaa’ika humul-muflihuun.”
Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)
10. QS. Ar-Rum: 38 — Menunaikan Hak Kaum Lemah Semata Mengharap Wajah (Ridha) Allah
Allah SWT menggunakan kata kerja perintah (fi’il amr) yakni Fa aati untuk menunaikan hak sesama:
فَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Fa aati dzal-qurbaa haqqahuu wal-miskiina wabnas-sabiil, dzaalika khoirul lilladziina yuriiduuna wajhallaah, wa ulaa’ika humul-muflihuun.”
Artinya: “Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ar-Rum: 38)
11. QS. At-Taubah: 88 — Rekam Jejak Nyata Pengorbanan Harta dan Jiwa (Jihad fii Sabiilillah)
Kriteria pamungkas menyingkap kemurnian iman orang-orang yang berjuang bersama Rasulullah SAW:
لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Laakinir-rasuulu wal-ladziina aamanuu ma’ahuu jaahaduu bi-amwaalihim wa anfusihim, wa ulaa’ika lahumul-khoiraat, wa ulaa’ika humul-muflihuun.”
Artinya: “Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taubah: 88)
Penggunaan kata kerja lampau (fi’il madhi) Jaahaduu mengisyaratkan bahwa predikat pemenang disematkan kepada mereka yang telah memiliki rekam jejak perjuangan nyata. Bagi mukmin yang belum sempat berjihad secara fisik, Rasulullah SAW memberikan solusi agar senantiasa menghidupkan niat dan tekad dalam dada:
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ“Man maata wa lam yaghzu wa lam yuhaddits bihii nafsahuu maata ‘alaa syu’batim min nifaaq.”
Artinya: “Barang siapa meninggal dunia sementara ia belum pernah berperang (di jalan Allah) dan tidak pernah pula meniatkan dalam dirinya untuk berperang, maka ia meninggal di atas salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim no. 1910)
Kesimpulan
Ketetapan Allah SWT mengenai kriteria orang-orang yang beruntung (Al-Muflihun) adalah janji yang pasti (haqq). Dengan berikhtiar memenuhi 11 kriteria Al-Qur’an ini—merawat keistiqamahan ibadah, membersihkan diri dari kekikiran, tunduk pada hukum syariat, aktif berdakwah, serta siap berkorban di jalan-Nya—insyaAllah kita digolongkan sebagai pemenang sejati di dunia dan akhirat kelak.
🎬 Tonton Video Kajian Selengkapnya:
Rekaman lengkap kajian Subuh ini dapat disaksikan melalui channel YouTube resmi Masjid Al-Hakim BSD: