Khotbah ⏱️ 6 Menit Baca

Khotbah Jumat Masjid Al-Hakim BSD: Hakikat Hidup Adalah Perjuangan di Jalan Allah

👤 Penulis: Pak Soleh
Khotbah Jumat Masjid Al-Hakim BSD: Hakikat Hidup Adalah Perjuangan di Jalan Allah

TANGERANG SELATAN — Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan ibadah Sholat Jumat di Masjid Al-Hakim BSD pada Jumat, 21 Agustus 2026. Bertindak sebagai khatib, Ust. H. Syukri Pandi, S.Q. menyampaikan khotbah bernas bertajuk “Hakikat Hidup Adalah Perjuangan”, yang mengajak seluruh jemaah untuk merefleksikan kembali arah dan nilai dari setiap ikhtiar yang dijalani di dunia.

Khatib mengawali khotbahnya dengan menegaskan bahwa seluruh manusia, tanpa terkecuali bahkan para Nabi dan Rasul, menjalani roda kehidupan melalui perjuangan. Sejak pertama kali manusia lahir ke dunia menangis dan belajar melangkah, berikhtiar mencari nafkah dan menuntut ilmu, hingga detik-detik sakaratul maut saat ruh terpisah dari jasad, semuanya dilalui dengan perjuangan.

Namun, yang membedakan nilai seseorang di hadapan Allah SWT adalah ke mana arah perjuangan tersebut dipersembahkan.

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ

“Alladziina aamanuu yuqaatiluuna fii sabiilillaah, walladziina kafaruu yuqaatiluuna fii sabiilith-thaaghuut…”

Artinya: “Orang-orang yang beriman berjuang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berjuang di jalan thaghut…” (QS. An-Nisa’: 76)

Dalam paparannya, Khatib menguraikan tiga tingkatan perjuangan utama yang harus diemban oleh setiap mukmin:


1. Perjuangan Pribadi: Merawat Iman dan Menundukkan Hawa Nafsu (Jihadul Akbar)

Perjuangan pertama dan paling mendasar terletak pada diri sendiri, yaitu memastikan api keimanan tidak pernah padam hingga akhir hayat. Menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat bukanlah perkara instan, melainkan pertempuran batin yang berlangsung setiap hari.

Khatib mengingatkan sabda agung Rasulullah SAW ketika kembali dari medan perang:

“Kita telah kembali dari jihad yang kecil (pertempuran fisik) menuju jihad yang paling besar.” Para sahabat bertanya, “Apakah jihad yang paling besar itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jihadun-nafs (jihad melawan hawa nafsu).”

Setiap keputusan keseharian—mulai dari apa yang kita makan, bagaimana kita berpakaian, hingga cara kita bertutur kata—selalu menjadi medan uji: apakah kita tunduk pada perintah Allah atau mengikuti kehendak hawa nafsu?

Iman sejati menuntut bukti dan perjuangan menghadapi ujian, sebagaimana firman Allah SWT:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Ahasiban-naasu ay yutrakuu ay yaquuluu aamannaa wahum laa yuftanuun. Wa laqad fatannal-ladziina min qoblihim falaya’lamannal-laahul-ladziina shodaquu wa laya’lamannal-kaadzibiin.”

Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 2-3)


2. Perjuangan Keluarga: Menjaga Akidah dan Ketaatan Keturunan

Perjuangan kedua adalah sebagai pemimpin dalam keluarga. Sebagai seorang ayah, suami, atau kakek, tanggung jawab yang dipikul tidak hanya terbatas pada mencukupi nafkah lahiriah seperti sandang, pangan, dan papan.

Khatib mengangkat teladan agung Nabi Ya’qub AS ketika menjelang wafatnya, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an:

إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي

“Idz qoola libaniihi maa ta’buduuna mim ba’dii…”

Artinya: “Ketika dia (Ya’qub) berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?’…” (QS. Al-Baqarah: 133)

Kekhawatiran terbesar seorang kepala keluarga mukmin bukanlah “Maa ta’kuluuna mim ba’di?” (Kalian akan makan apa setelah kepergianku? Tinggal di mana? Bekerja apa?), melainkan “Maa ta’buduuna mim ba’di?” (Siapa yang kalian sembah dan bagaimana ketaatan kalian kepada Allah setelah aku tiada?). Menjaga tauhid dan kesalehan anak cucu merupakan perjuangan tak ternilai yang pahalanya terus mengalir.


3. Perjuangan Terbesar: Meneruskan Estafet Dakwah Rasulullah SAW bagi Umat

Tingkatan perjuangan tertinggi adalah meneladani misi agung para Nabi dan Rasul dalam menyelamatkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya hidayah.

Nabi-nabi terdahulu diutus secara spesifik kepada kaumnya masing-masing, namun Rasulullah Muhammad SAW diutus untuk seluruh umat manusia (kaaffatan lin-naas):

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

“Wa maa arsalnaaka illaa kaaffatal lin-naasi basyiiraw wa nadziiraa…”

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan…” (QS. Saba’: 28)

Tongkat estafet dakwah ini kini berada di pundak umat Nabi Muhammad SAW. Sebagai Khairu Ummah (umat terbaik), tanggung jawab kita adalah menghadirkan kemanfaatan seluas-luasnya bagi sesama manusia:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kuntum khoiro ummatin ukhrijat lin-naas…”

Artinya: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Rasulullah SAW juga menegaskan:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Khoirun-naasi anfa’uhum lin-naas.”

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad & Ath-Thabarani)

Kemanfaatan tertinggi yang dapat kita berikan adalah kemanfaatan agama, iman, dan Islam yang menyelamatkan kehidupan di dunia hingga akhirat kelak.


Penutup: Tiada Kata Selesai dalam Berjuang

Mengakhiri khotbahnya, Ust. H. Syukri Pandi berpesan bahwa perjuangan di jalan Allah tidak pernah dibatasi oleh usia maupun status pekerjaan. Baik yang masih muda maupun yang telah lanjut usia, baik yang aktif bekerja maupun yang sudah memasuki masa purna tugas (pensiun), medan perjuangan untuk diri, keluarga, masjid, bangsa, dan umat manusia akan terus berlangsung sampai nafas terakhir berhembus.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kekuatan, keistiqamahan, dan menggolongkan kita sebagai pejuang-pejuang sejati di jalan-Nya yang diridhoi lahir dan batin.


🎬 Tonton Video Khotbah Selengkapnya:

Rekaman lengkap khotbah Jumat ini dapat disaksikan melalui channel YouTube resmi Masjid Al-Hakim BSD:

Bagikan Kabar Ini:
WhatsApp Facebook

Kabar Lainnya

Kajian

Kajian Subuh Masjid Al-Hakim BSD: Hakikat Kezaliman dan Bahayanya Menutup Pintu Hidayah

🗓️ 30 Agu Baca →
Kajian

Kajian Subuh Masjid Al-Hakim BSD: 4 Pilar Kebangkitan & Kemajuan Peradaban Umat — Dari Generasi Muda hingga Ketahanan Keluarga

🗓️ 29 Agu Baca →