Kajian Subuh Masjid Al-Hakim BSD: Seandainya Rasulullah Bersama Kita — Refleksi Rindu & Meneladani Akhlak Nabi ﷺ
TANGERANG SELATAN — Memanfaatkan momentum libur nasional, jemaah Masjid Al-Hakim BSD memadati ruang utama masjid untuk mengikuti Kajian Selasa Subuh pada 25 Agustus 2026. Menghadirkan narasumber Ust. Dr. Agus Setiawan, M.A., kajian tematik ini mengangkat judul yang menggugah sanubari: “Seandainya Rasulullah ﷺ Bersama Kita” (Law Kaana Bainanal Habib).
Dalam mukadimahnya, Ust. Dr. Agus Setiawan mengajak jemaah menyukuri anugerah iman dan kesehatan yang memungkinkan langkah kaki diringankan menuju rumah Allah di waktu subuh. Beliau menekankan betapa istimewanya relasi seorang mukmin dengan Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Jika manusia pada umumnya mencintai seseorang karena pernah bertatap muka, kaum muslimin menaruh cinta dan kerinduan yang membuncah kepada Rasulullah ﷺ kendati belum pernah berjumpa secara fisik di dunia.
Kajian ini merangkum empat dimensi utama: keagungan kedudukan Nabi ﷺ di hadapan Allah SWT, potret ketulusan cinta para sahabat, keluhuran akhlak dan seni komunikasi nabawi, serta panduan praktis merevitalisasi sunnah Rasulullah ﷺ di tengah dinamika era modern.
1. Keagungan & Pengutamaan Nabi Muhammad ﷺ di Sisi Allah SWT
Mengawali uraian, Ust. Dr. Agus Setiawan mengutip penjelasan Imam Al-Ghazali tentang bagaimana Allah SWT mengistimewakan kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di antara seluruh nabi dan rasul. Keistimewaan ini terpancar jelas dari ayat-ayat suci Al-Qur’an:
- Pertama, Disebutkan Paling Awal dalam Perjanjian Ulul Azmi:
Meskipun Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai penutup para nabi (Khatamun Nabiyyin), Allah SWT menyebutkan nama beliau pertama kali saat mengambil sumpah para rasul Ulul Azmi:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقًا غَلِيظًا“Wa idz akhadznaa minan-nabiyyiina miitsaaqahum wa minka wa min nuuhiw wa ibraahiima wa muusaa wa ‘iisabni maryama wa akhadznaa minhum miitsaaqan ghaliizhaa.”
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS. Al-Ahzab: 7)
- Kedua, Pemanggilan Berdasarkan Kemuliaan Tugas dan Risalah:
Berbeda dengan para nabi terdahulu yang disapa langsung dengan namanya di dalam Al-Qur’an (seperti Yaa Adam, Yaa Ibrahim, Yaa Musa), Allah SWT tidak pernah memanggil Nabi Muhammad ﷺ hanya dengan namanya semata tanpa menggandengkannya dengan risalah, tugas kenabian, atau gelar kehormatan:
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ“Muhammadur-rasuulullaah, wal-ladziina ma’ahuu asyiddaa’u ‘alal-kuffaari ruhamaa’u bainahum…”
Artinya: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…” (QS. Al-Fath: 29)
- Ketiga, Teladan Mutlak bagi Umat Manusia:
Pribadi Rasulullah ﷺ ditetapkan Allah SWT sebagai teladan paripurna (Uswatun Hasanah) bagi siapa saja yang mengharapkan rahmat Allah dan keselamatan di akhirat:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatul liman kaana yarjullaaha wal-yawmal-aakhira wa dzakarallaaha katsiiraa.”
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ust. Agus Setiawan juga mengingatkan betapa sayangnya Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Dalam peristiwa Isra Mikraj, beliau memohon keringanan kewajiban sholat dari 50 waktu menjadi 5 waktu demi memikirkan kesanggupan umatnya. Hingga menjelang hembusan nafas terakhirnya, lisan suci beliau tidak henti-hentinya mengkhawatirkan keselamatan kita: “Ummatii, ummatii…” (Umatku, umatku).
2. Refleksi Kerinduan & Ketulusan Cinta Para Sahabat
Ungkapan “Seandainya Rasulullah ﷺ bersama kita” memicu refleksi batin yang sangat dalam. Ustaz memaparkan kisah-kisah mengharukan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang memperlihatkan ketulusan cinta tanpa rekayasa:
-
Peristiwa Sebelum Perang Uhud (Kisah Sahabat Sawad bin Ghaziyyah):
Saat Rasulullah ﷺ merapikan barisan perang dengan sebatang ranting kayu, ranting tersebut mengenai perut seorang sahabat. Sahabat tersebut berseru meminta qisas (pembalasan). Nabi ﷺ dengan penuh ketawaduan membuka bajunya dan bersiap diqisas. Namun, seketika sahabat tersebut langsung merangkul dan mencium perut Rasulullah ﷺ seraya berkata:“Wahai Rasulullah, bukit Uhud telah nampak di depan mata dan pertempuran telah tiba. Aku tidak tahu apakah aku akan gugur atau kembali hidup. Keinginanku hanyalah agar kulitku sempat bersentuhan dengan kulit sucimu sebelum aku syahid.”
-
Permintaan Sahabat Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami:
Ketika Rasulullah ﷺ menawarinya hadiah atas jasanya menyiapkan air wudhu dan sandal beliau dengan bersabda “Sal ma syi’ta” (Mintalah apa yang kau inginkan), sahabat tersebut tidak meminta harta atau kedudukan dunia, melainkan menjawab: “As’aluka muraafaqataka fil Jannah” (Aku hanya memohon agar dapat membersamaimu di surga). Rasulullah ﷺ lantas berpesan:
فَأَعِنِّي عَلَىٰ نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Fa a’innii ‘alaa nafsika bikatsratis-sujuud.”
Artinya: “Maka bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan harapanmu) dengan memperbanyak sujud (mendirikan sholat-sholat sunnah).” (HR. Muslim no. 489)
Ustaz merekomendasikan jemaah untuk membaca kitab klasik Asy-Syamail Al-Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi. Sebagian besar riwayat ciri fisik dan keanggunan Rasulullah ﷺ diriwayatkan oleh sahabat junior (shigharus shahabah) seperti Ibnu Abbas dan Anas bin Malik, karena para sahabat senior diliputi rasa segan dan takzim yang luar biasa (haibah) sehingga tidak sanggup menatap lekat-lekat wajah mulia Baginda ﷺ.
3. Komunikasi Santun & Seni Nabi ﷺ Mengapresiasi Potensi Umat
Meneladani Rasulullah ﷺ berarti meniru tutur kata, kelembutan, dan cara beliau berinteraksi sosial. Ust. Dr. Agus Setiawan menyoroti dua keistimewaan komunikasi nabawi:
A. Komunikasi yang Ringkas, Padat, dan Berbobot (Al-Amtsal An-Nabawiyyah)
Gaya bicara Rasulullah ﷺ runtut, santun, tidak berbelit-belit, serta kerap menggunakan analogi aplikatif:
- Perumpamaan Sholat Lima Waktu: Nabi ﷺ mengibaratkan sholat dengan sungai mengalir jernih di depan pintu rumah seseorang tempat ia mandi lima kali sehari—sehingga tidak ada sedikit pun kotoran/daki yang tersisa di tubuhnya.
- Perumpamaan Bangunan Islam: Islam dianalogikan sebagai sebuah bangunan megah: syahadat sebagai pondasi kokohnya, sholat sebagai tiang penyangganya, puasa dan zakat sebagai dinding pelindungnya, haji serta amar ma’ruf nahi munkar sebagai atap yang menaungi. Adapun akhlak karimah adalah cat indah yang menyempurnakan keelokan bangunan tersebut.
B. Kemampuan Mengenali dan Mengembangkan Potensi Unik Setiap Insan
Rasulullah ﷺ tidak pernah menghakimi kekurangan orang lain; hati beliau yang bersih selalu memancarkan apresiasi terhadap kelebihan para sahabat:
أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ، وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ، وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ، وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ... وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ، وَأَمِينُ هَٰذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ“Arhamu ummatii bi-ummatii Abu Bakr, wa asyadduhum fii amrillaahi ‘Umar, wa ashdaquhum hayaa’an ‘Utsmaan, wa a’lamuhum bil-halaali wal-haraami Mu’adz bin Jabal, wa afradhuhum Zaid bin Tsaabit… wa likulli ummatin amiin, wa amiinu haadzihil-ummati Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah.”
Artinya: “Umatku yang paling penyayang terhadap sesama umat adalah Abu Bakar, yang paling teguh dalam urusan Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling paham tentang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, yang paling mahir dalam ilmu faraidh (waris) adalah Zaid bin Tsabit… dan setiap umat memiliki orang kepercayaan (penjaga amanah), dan penjaga amanah umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. At-Tirmidzi no. 3790)
Ketika para sahabat sempat tersenyum melihat kecilnya betis sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu saat memanjat pohon kurma, Nabi ﷺ langsung menegaskan bahwa satu betis Ibnu Mas’ud di timbangan mizan Allah jauh lebih berat daripada Gunung Uhud.
4. Muhasabah Cinta & Meneladani Kedermawanan Nabi ﷺ
Mengaku cinta kepada Rasulullah ﷺ menuntut pembuktian nyata berupa kepatuhan syariat dan peneladanan hidup:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Qul ing kuntum tuhibbuunallaaha fattabi’uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum, wallaahu ghafuurur rahiim.”
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus diletakkan di atas segala kepentingan duniawi:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ“Laa yu’minu ahadukum hattaa akuuna ahabba ilaihi miw waalidihii wa waladihii wan-naasi ajma’iin.”
Artinya: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 15 & Muslim no. 44)
Ust. Agus Setiawan meluruskan persepsi keliru yang menganggap Nabi ﷺ serba berkekurangan. Mengutip kajian disertasi di Universitas Islam Madinah (Amwalun Nabiyyi ﷺ), Nabi Muhammad ﷺ sesungguhnya memiliki potensi kekayaan luar biasa—mulai dari bagian 20% ghanimah (QS. Al-Anfal: 41), kepemilikan unta merah unggulan (Al-Qashwa, Al-‘Adhba), kuda perang, hingga lembah ternak kambing. Namun, beliau memilih gaya hidup zuhud dan super dermawan. Beliau berinfak bagaikan orang yang tidak pernah takut jatuh miskin (Man laa yakhsyal faqr), berkurban 100 ekor unta saat haji wada’, dan membebaskan puluhan budak.
5. Tiga Langkah Konkret Menghidupkan Sunnah di Era Modern
Ust. Dr. Agus Setiawan merumuskan 3 pilar praktis bagi jemaah untuk mengamalkan sunnah Rasulullah ﷺ dalam keseharian masa kini:
- Menjaga Lisan dan Jemari (Caring Before Sharing):
Hindari dusta, ghibah, dan menyebarkan berita yang belum terverifikasi. Beliau mengisahkan teladan sahabat Abu Ayyub Al-Anshari saat menghadapi kabar bohong (haditsul ifk), di mana ia langsung menutup celah fitnah dengan menegaskan kemuliaan ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha. - Merawat Hubungan Sosial dan Senyuman (Silaturahim & Basyasyatul Wajh):
Tebarkan salam, murahkan senyum kepada sesama, dan rawat ukhuwah jemaah masjid. Kehangatan wajah membuka pintu kebaikan dan keberkahan sosial. - Mengkaji Sirah Nabawiyyah Bersama Keluarga di Rumah:
Jadikan rumah tangga akrab dengan kisah perjuangan Nabi ﷺ sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga kerasulan beliau. Anak-anak dan keluarga harus lebih mengidolakan Rasulullah ﷺ daripada tokoh-tokoh fana di media sosial.
Beliau menggarisbawahi kaidah emas:
“Laisa sya’nu an tuhibba, wa laakinna sya’na an tuhabba.”
(Perkaranya bukan semata seberapa lantang engkau mengaku mencintai Nabi, melainkan apakah pribadimu layak dicintai dan diridai oleh Rasulullah ﷺ).
6. Khilafiah Fikih sebagai Keluasan & Doa Kebangkitan Umat
Pada sesi tanya jawab, seorang jemaah menanyakan apa yang semestinya dilakukan jika Rasulullah ﷺ hadir di tengah-tengah kita hari ini—apakah menanyakan perdebatan fikih khilafiah (seperti qunut subuh, zikir berjamaah, dan semisalnya)?
Ust. Dr. Agus Setiawan menjelaskan:
- Prioritas utama jika Nabi ﷺ hadir adalah memeluk beliau, memohon doa keberkahan bagi umat, dan meminta arahan strategis untuk memartabatkan kembali umat Islam.
- Perbedaan pandangan fikih di kalangan ulama mazhab sejatinya adalah keluasan dan pilihan (option) yang membawa rahmat dan maslahat. Beliau mencontohkan ijtihad Khalifah Umar bin Khattab saat menaklukkan Khaibar serta pengembangan model distribusi zakat produktif (seperti fasilitas ambulans, beasiswa terpadu, atau perpustakaan keliling) yang memberi dampak peradaban jangka panjang.
Kajian ditutup dengan lantunan doa dan istighfar yang penuh linangan air mata. Jemaah bermunajat memohon ampunan dosa, keselamatan orang tua yang telah mendahului, keistiqamahan anak-keturunan, serta keberkahan bagi kemakmuran dakwah Masjid Al-Hakim BSD.
🎬 Tonton Video Kajian Selengkapnya:
Rekaman lengkap kajian Subuh ini dapat disaksikan melalui channel YouTube resmi Masjid Al-Hakim BSD: